PAHITNYA SUATU OBAT


Alkisah ada seorang raja yang memiliki istri yang sangat ia cintai-nya. Sayang, istrinya tidak bisa memberinya keturunan. Banyak tabib telah berusaha mengobatinya, namun tidak berhasil. Ia diberitahu bahwa ada seorang tabib yang sangat mahir di suatu tempat tertentu.
“Panggillah ia kemari,” titah sang raja.
Tak beberapa lama datanglah sang tabib ke hadapan raja.

“Jika kalian ingin aku mengobatinya, maka biarkanlah aku berdua dengan sang permaisuri, tutuplah dengan hijab,” kata sang tabib. Mereka kemudian meninggalkan kedua orang itu.

“Setelah kuamati bukuku, ternyata ajalmu telah dekat. Sisa umurmu tak cukup untuk mengandung dan melahirkan. Umurmu hanya tinggal 40 hari lagi,” kata sang tabib kepada permaisuri raja. Setelah merasa cukup berbicara dengannya, sang tabib kemudian mohon diri.

Sejak pertemuannya dengan sang tabib, nafsu makan permaisuri sangat berkurang. Makan siang dihidangkan, namun ia tidak memakannya. Makan malam disiapkan, ia juga tidak menyentuhnya.Raja khawatir dengan keadaan istrinya.

“Apa yang terjadi denganmu?” tanya raja.
“Orang bijak itu mengatakan bahwa umurku tinggal 40 hari,” jelas istrinya. Permaisuri lalu menceritakan semua yang dikatakan oleh sang tabib.

Semakin hari tubuh sang permaisuri semakin kurus. Empat puluh hari lewat sudah, tetapi ia tidak mati juga. Raja kemudian mengutus orang untuk mengundang sang tabib.

“Empat puluh hari telah berlalu, namun istriku tetap hidup,” kata raja kepada sang tabib.
“Sesungguhnya aku tidak tahu kapan ajalku tiba, apa lagi ajal orang lain. Namun saat itu, aku tidak menemukan obat yang lebih manjur dari berita yang menakutkannya. Istrimu selalu makan yang nikmat-nikmat dan kolesterol tinggi sehingga lemak menutup rahimnya. Sekarang temuilah dia dan kumpullah dengannya. Insyaa Allah dia akan hamil.” Tak lama kemudian tersebar berita bahwa permaisuri raja hamil.

Suatu obat yang manjur biasanya rasanya tidak meng-enakan, tetapi jika kita disiplin memakan-nya sesuai resep, dengan ijin Allah penyakit yang diderita akan segera hilang. Begitupun dengan hidup ini, tidak sedikit kesulitan hidup yang dialami seseorang, dikemudian hari melejitkan seseorang ke puncak kesuksesan. Untuk itu jangan takut minum obat walau rasanya pahit, termasuk obat kehidupan ini.

KEUTAMAAN TAUHID & MENJAUHI KESYIRIKAN


Tujuan Diciptakannya Manusia


Tak jarang dari umat manusia yang belum memahami dengan sebenarnya akan hakekat keberadaannya di muka bumi ini.
Sebagian mereka beranggapan bahwa hidup ini hanyalah proses alamiah untuk menuju kematian. Sehingga hidup ini tak ubahnya hanyalah makan, minum, tidur, beraktifitas dan mati, lalu selesai! Tanpa adanya pertanggungjawaban amal di hari kiamat kelak.
Allah , Pencipta semesta alam mengingkari anggapan batil ini dengan firman-Nya (artinya): “Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, (sebagian) kami ada yang mati dan sebagian lagi ada yang hidup (lahir). Dan tidak ada yang membinasakan kita kecuali masa.” Mereka sekali-kali tidak mengerti tentang hal itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (Al Jatsiyah: 24)
Bila demikian keadaannya, lalu apa tujuan diciptakannya kita di muka bumi ini?
Para pembaca, sesungguhnya keberadaan kita di muka bumi ini tidaklah sia-sia belaka. Allah berfirman (artinya): “Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian sia-sia belaka?” (Al Mu’minun: 115)
Bahkan dengan tegas Allah menyatakan (artinya): “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (mengesakan ibadahnya) kepada-Ku, Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan pada-Ku, Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan Lagi Maha Sangat Kuat” (Adz Dzariyat: 56-58)
Tentunya, ibadah di sini hanyalah berhak diberikan kepada Allah semata, karena Dia-lah satu-satunya Pencipta kita dan seluruh alam semesta ini. Allah berfirman (artinya): “Hai manusia beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dan Dia yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan sebab itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.” (Al Baqarah: 21-22)
Demikianlah hikmah dan tujuan penciptaan kita di muka bumi ini.

Makna Ibadah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Ibadah adalah suatu nama yang mencakup seluruh perkara yang dicintai oleh Allah dan diridhai-Nya baik berupa ucapan maupun perbuatan, baik yang dhahir maupun batin.”
Asal ibadah adalah ketundukan dan perendahan diri. Suatu ibadah tidaklah dikatakan ibadah sampai pelakunya bertauhid yaitu mengikhlashkan peribadatan hanya kepada Allah dan meniadakan segala sesembahan kepada selain Allah . Atas dasar itu Ibnu Abbas berkata: “Makna beribadah kepada Allah adalah tauhidullah (yaitu mengesakan peribadahan hanya kepada Allah).
Itulah realisasi dari kalimat tauhid
لاَ إِلهَ إلاَّ الله . لاَ إِلهَ إلاَّ الله merupakan kalimat yang sangat akrab dengan kita, bahkan kalimat inilah yang kita jadikan sebagai panji tauhid dan identitas keislaman. Ia sangat mudah diucapkan, namun menuntut adanya sebuah konsekuensi yang amat besar. Oleh karena itu, Allah gelari kalimat ini dengan “Al ‘Urwatul Wutsqo” (buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus), sebagaimana dalam firman-Nya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut (segala apa yang diibadahi selain Allah) dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 256)

Dakwah Tauhid Adalah Misi Utama Yang Diemban Para Rasul
Tujuan pokok diutusnya para Rasul adalah menyeru umat manusia agar beribadah hanya kepada Allah semata, dan melarang dari peribadatan kepada selain-Nya, sebagaimana Allah berfirman (artinya): “Sungguh tidaklah Kami mengutus seorang rasul pada setiap kelompok manusia kecuali untuk menyerukan: “Beribadalah kalian kepada Allah saja dan tinggalkan thaghut (yakni sesembahan selain Allah).” (An Nahl: 36)
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan padanya bahwa tidak ada sesembahan yang haq diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kepada-Ku”. (Al Anbiya’: 25)
Nabi Nuh sebagai seorang rasul pertama mengajak umatnya kepada tauhid selama 950 tahun. Demikian pula Rasulullah e selama 13 tahun tinggal di Mekkah menyeru umatnya kepada tauhid dan dilanjutkan di Madinah, sampai-sampai menjelang wafat pun beliau tetap mewanti-wanti tentang pentingnya tauhid dan bahayanya syirik, beliau berkata:
لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيآئِهِمْ مَسَاجِدَ
“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan nab
i mereka sebagai sebagai masjid-masjid.” (Muttafaqun ‘alaihi).
Sebagaimana pula yang beliau wasiatkan kepada Sahabat Mu’adz bin Jabal t tatkala diutus ke negeri Yaman:
إِنَّكَ تَقْدمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَى أَنْ يُّوَحِّدُوا اللهَ تَعَالى
“Sesungguhnya kamu akan mendatangi sekelompok kaum dari Ahlul Kitab, maka jadikanlah yang pertama kali dalam dakwahmu, (ajakan) supaya mereka mau bertauhid kepada Allah .” (HR. Muslim)

Tauhid Adalah Solusi Dari Problema Umat
Di kancah perselisihan dakwah dengan lahirnya berbagai macam bendera-bendera Islam yang semuanya mengatasnamakan Islam. Sebagian mereka mengatakan Islam tidak akan maju dan mulia selama tidak memperhatikan sisi ekonomi kaum muslimin. Yang lain berpandangan bahwa medan politik adalah solusi umat, meraih kekuasan adalah target utama sebagai jembatan penegak syari’at di muka bumi, dan sekian banyak logika-logika yang hanya berdasarkan kepada perasaan ataupun emosional semata tanpa didasari dengan ilmu.
Para pembaca yang mulia, perhatikanlah berita penegasan dari Allah , bahwa dakwah tauhid yang merupakan tujuan diutusnya para rasul dan para nabi, dan diturunkannya kitab-kitab suci dari langit, adalah faktor terbesar untuk meraih kejayaan, mengangkat kehormatan, kemuliaan dan kesejahteraan kaum muslimin. Allah berfirman (artinya): “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Yaitu mereka tetap beribadah hanya kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nur: 55)
“Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami melimpahkan berkah dari langit dan bumi.” (Al A’raf: 96)
Dan tauhid merupakan landasan utama dari sebuah keimanan dan ketakwaan.

Keutamaan Tauhid
Allah I tidaklah mewajibkan suatu perkara, melainkan pasti padanya terdapat keutamaan-keutamaan yang sangat mulia. Begitu pula dengan “Tauhid” yang merupakan perkara paling wajib dari perkara-perkara yang paling wajib, tentunya pasti mempunyai berbagai keutamaan. Di antara keutamaannya ialah:
1. Tauhid Adalah Tingkat Keimanan Yang Tertinggi
Kita ketahui bahwa iman itu bertingkat-tingkat, dan tingkatan yang tertinggi adalah kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah. Rasulullah r bersabda:
اَلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَإِلهَ إِلاَّالله وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ
“Iman itu ada enam puluh cabang lebih, yang paling tinggi adalah perkataan/ucapan Laa Ilaaha Illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR. Muslim)
2. Tauhid Sebagai Syarat Diterimanya Suatu
Ibadah
Allah I berfirman (artinya):
“Seandainya mereka menyekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al An’am: 88)
3. Tauhid Merupakan Sebab Bagi Datangnya Ampunan Allah I
Hal ini didasarkan kepada firman Allah I: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik (ketika pelakunya meninggal dunia dan belum bertaubat darinya), dan Dia mengampuni dosa yang di bawah syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (An Nisa’: 48 & 116)
4. Tauhid Sebagai jaminan Masuk ke Al Jannah Tanpa Hisab
Ketika para shahabat bertanya-tanya tentang 70.000 orang dari umat Muhammad r yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab, maka Rasulullah r bersabda:
هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُونَ وَلاَ يَكْتَوُونَ وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“… mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak minta dikay dan tidak mengundi nasib dengan burung dan sejenisnya dan mereka bertawakkal hanya kepada Allah.” (H.R. At Tirmidzi)
5. Orang Yang Tauhidnya Benar Pasti Akan Masu
k Al Jannah
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah r:
مَنْ لَقِيَ اللهَ لاَ يُشْرِكُ بِه شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa bertemu Allah dalam keadaan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, niscaya dia akan masuk surga.” (H.R. Muslim)
6. Tauhid Merupaka
n Sumber Keamanan
Sebagaimana firman Allah I (artinya): “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kedhaliman (kesyirikan), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al An’am: 82)

Bagaimanakah Bahaya Syirik ?
Syirik merupakan lawan dari tauhid. Kalau tauhid mengandung makna menunggalkan Allah dalam hal ibadah, maka syirik mengandung makna menyekutukan Allah dalam hal ibadah. Di saat tauhid mempunyai banyak keutamaan maka sebaliknya syirik pun sangat berbahaya dan mempunyai banyak mudharat. Di antaranya adalah:
1. Dosa Syirik Tidak Akan Diampuni Oleh Allah I
Allah I berfirman (artinya):
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik (ketika pelakunya meninggal dunia dan belum bertaubat darinya), dan Dia mengampuni dosa yang di bawah syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (An Nisa’: 48 & 116)
2. Kesyirikan Adalah Kedhaliman Yang Besar
Firman Allah I (artinya): “Sesungguhnya kesyirikan adalah kedhaliman yang besar.” (Luqman: 13)
3. Orang Yang Meninggal Dunia Dalam Keadaan Musyrik Akan Masuk Neraka Dan Kekal Di Dalamnya
Allah berfirman (artinya):
“Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah maka sungguh Allah mengharamkan baginya surga, dan tempat kembalinya adalah neraka dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang dhalim.” (Al Maidah: 72)
Rasulullah r juga bersabda:
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ
“Barangsiapa meninggal dunia dan dia berdo’a kepada selain Allah niscaya dia masuk
neraka.” (HR. Al Bukhari)
4. Kesyirikan Penyebab Terpecah Belahnya Umat
Firman Allah I (artinya):
“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar Ruum: 31-32)
Semoga Allah menjauhkan kita semua dari kesyirikan, dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang bertauhid, dan para penghuni jannah (surga)-Nya. Amin…

Kunci KEBAHAGIAAN

Bismillaah, walhamdulillaah, wash sholaatu wassalaamu alaa rosuulillaah, wa alaa aalihii wa shohbihii wa man waalaah…
Menindak lanjuti anjuran Syeikh Abdur Rozzaq -hafizhohulloh- dalam tabligh akbarnya -(di Masjid Istiqlal 1 Shofar 1431 / 17 Januari 2010)- untuk menyebarkan uraian Ibnul Qoyyim tentang kunci kebahagiaan, maka pada kesempatan ini, kami berusaha menerjemahkannya untuk para pembaca, semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua…
SEBAB-SEBAB LAPANGNYA DADA
(1) Sebab utama lapangnya dada adalah: TAUHID.
Seperti apa kesempurnaan, kekuatan, dan bertambahnya tauhid seseorang, seperti itu pula kelapangan dadanya. Alloh ta’ala berfirman:
أَفَمَن شَرَحَ اللهُ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِّنْ رَبِّه [الزمر: 22].
Apakah orang yang dibukakan hatinya oleh Alloh untuk menerima Islam, yang oleh karenanya dia mendapat cahaya dari Tuhannya, (sama dengan orang yang hatinya membatu?!)
Alloh juga berfirman:
فَمَنْ يُرِدِ اللهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلاَمِ، وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجاً كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَاءِ [الأنعام: 125].
Barangsiapa dikehendaki Alloh mendapat hidayah, maka Dia akan membukakan hatinya untuk menerima Islam. Sedang barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, maka Dia akan jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia sedang mendaki ke langit.
Maka, petunjuk dan tauhid adalah sebab utama lapangnya dada. Sebaliknya syirik dan kesesatan, adalah sebab utama sempit dan gundahnya dada.
span class="fullpost">(2) Diantara sebab lapangnya dada adalah: Cahaya yang ditanamkan Alloh ke dalam hati hamba-Nya, yakni CAHAYA IMAN.
Sungguh cahaya itu akan melapangkan dan meluaskan dada, serta membahagiakan hati. Apabila cahaya ini hilang dari hati seorang hamba, maka hati itu akan menjadi ciut dan gundah, sehingga menjadikannya berada dalam penjara yang paling sempit dan sulit.
At-Tirmidzi meriwayatkan dalam kitab Jami’nya, bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Jika cahaya (iman) itu masuk ke dalam hati, maka ia akan menjadi luas dan lapang”. Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai Rosululloh, lalu apa tanda-tandanya?” Beliau menjawab: “(Tandanya adalah jika hatinya menginginkan) kembali ke rumah keabadian, menjauh dari rumah kepalsuan, dan bersiap-siap menghadapi kematian sebelum ia datang”.
Maka, seorang hamba akan mendapatkan kelapangan dadanya, sesuai bagiannya dari cahaya (iman) ini. Hal ini menyerupai cahaya dan kegelapan yang kasat mata, karena cahaya dapat melapangkan hati, sedang kegelapan bisa menciutkannya.
(3) Diantaranya lagi adalah: ILMU.
Ilmu akan melapangkan dada dan meluaskannya, hingga ia bisa menjadikannya lebih luas dari dunia. Sebaliknya kebodohan bisa menjadikan hati ciut, terkepung, dan terpenjara. Semakin luas ilmu seorang hamba, maka semakin lapang dan luas pula dadanya. Tentu, hal ini tidak berlaku untuk semua ilmu, akan tetapi hanya untuk ilmu yang diwariskan dari Rosul -shollallohu alaihi wasallam, yakni ilmu yang bermanfaat. Oleh karena itu, ahli ilmu menjadi orang yang paling lapang dadanya, paling luas hatinya, paling bagus akhlaknya, dan paling baik hidupnya.
(4) Diantaranya lagi adalah: Kembali kepada Alloh ta’ala, mencintai-Nya sepenuh hati, menghadap pada-Nya, dan mencari kenikmatan dalam mengibadahi-Nya. Karena, tidak ada sesuatu pun yang lebih mampu melapangkan dada seorang hamba melebihi itu semua, hingga kadang hati itu mengatakan: “Seandainya di dalam surga nanti, keadaanku seperti ini, maka sungguh itu berarti aku dalam kehidupan yang baik”.
Sungguh kecintaan itu memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam melapangkan dada, membaikkan jiwa, dan menikmatkan hati. Tidak ada yang tahu hal itu, kecuali orang yang pernah merasakannya. Dan ketika cinta itu semakin kuat dan hebat, maka saat itu pula dada menjadi semakin luas dan lapang.
Dan hati ini tidak akan menciut, kecuali saat melihat para pengangguran yang kosong dari hal ini. Sungguh melihat mereka hanya akan mengotorkan mata hati, dan berkumpul dengan mereka hanya akan membuat gerah jiwa.
Diantara sebab utama ciutnya dada adalah: Berpalingnya hati dari Alloh ta’ala, bergantungnya hati pada selain-Nya, lalainya hati dari mengingat-Nya, dan kecintaan hati pada selain-Nya.
Karena, barangsiapa mencintai sesuatu selain Alloh, niscaya ia akan disiksa dengannya, dan hatinya akan terpenjara oleh kecintaannya pada sesuatu tersebut.
Sehingga tiada orang di muka bumi ini, yang lebih sengsara, lebih penat, lebih buruk, dan lebih payah hidupnya melebihinya.
Maka, di sini ada dua cinta:
(a) Cinta yang merupakan: surga dunia, kebahagiaan jiwa, dan kelezatan hati. Cinta yang merupakan kenikmatan, santapan, dan obatnya ruh. Bahkan dialah kehidupan ruh dan sesuatu yang paling disenanginya. Dialah cinta kepada Alloh semata dengan sepenuh hati, dan tertariknya semua kesenangan, keinginan, dan kecintaan hati hanya kepada-Nya.
(b) Dan cinta yang merupakan: siksaan ruh, kegundahan jiwa, penjara hati, dan sempitnya dada. Dialah sebab sakit, susah, dan beratnya jiwa. Itulah kecintaan kepada selain Alloh subhanahu wa ta’ala.
(5) Diantara sebab-sebab lapangnya dada adalah: Melanggengkan dzikir (mengingat)-Nya di segala tempat dan masa. Karena, dzikir itu memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam melapangkan dada dan menikmatkan hati. Sebaliknya, lalai memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menciutkan, memenjarakan, dan menyiksa hati seorang hamba.
(6) Diantaranya lagi adalah: Membantu orang lain, dan memberikan manfaat kepada mereka, dengan apa yang ia mampui, dari hartanya, kedudukannya, badannya, dan berbagai macam kebaikan untuk orang lain.
Oleh karena itu, orang yang dermawan dan punya banyak jasa, adalah orang yang paling lapang dadanya, paling baik jiwanya, dan paling nikmat hatinya. Sedangkan si bakhil yang tidak punya jasa baik, adalah orang yang paling sempit dadanya, paling buruk hidupnya, dan paling banyak gundah gulananya.
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah memberikan perumpamaan untuk si bakhil dan sang dermawan dalam sebuah hadits shohih (riwayat Muslim: 1021), yaitu: Seperti dua orang yang mempunyai baju perang dari besi. Setiap kali sang dermawan ingin bersedekah, baju besi itu menjadi tambah luas dan lebar, hingga ia menyeret bajunya dan menjadi panjang jejaknya. Sedangkan si bakhil, setiap kali ingin bersedekah, maka semua lingkaran rantai (yang menjadi penghubung rangkaian baju besi) itu menetapi tempatnya, dan tidak melebar hingga tidak cukup untuknya.
Maka, inilah perumpamaan lapang dan luasnya dada seorang mukmin yang dermawan, dan ini pula perumpamaan ciut dan sempitnya dada si bakhil.
(7) Dan diantaranya lagi adalah: Keberanian.
Makanya seorang pemberani adalah seorang yang lapang dadanya, serta luas jiwa dan hatinya.
Sedangkan pengecut, adalah seorang yang paling ciut dadanya, dan paling terbatas hatinya. Ia tidak memiliki kesenangan dan kebahagiaan. Ia juga tidak memiliki kenikmatan, kecuali kenikmatan yang dirasakan oleh hewan saja.
Adapun kebahagiaan, kelezatan, kenikmatan, dan kesenangan jiwa, maka itu tidak akan diberikan kepada mereka yang pengecut, sebagaimana ia tidak diberikan kepada mereka yang bakhil, dan mereka yang berpaling dari Allohsubhanah, lalai dari mengingat-Nya, jahil dengan-Nya, dengan nama-namaNya, dengan sifat-sifatNya, dan dengan agama-Nya, serta hatinya tergantung dengan selain-Nya.
Sungguh kenikmatan dan kebahagiaan ini, akan menjadi taman dan surga di alam kubur nanti. Sebaliknya keciutan dan kesempitan hati mereka, akan menjadi siksaan dan penjara di alam kuburnya.
Maka, keadaan hamba di alam kubur nanti, itu seperti keadaan hati di dalam dada, baik dalam hal kenikmatan, siksaan, kebebasan, maupun terpenjaranya.
Dan bukan patokan, bila ada kelapangan hati bagi si ini, dan keciutan hati bagi si itu, karena adanya sesuatu yang datang. Karena ia akan hilang dengan hilangnya sesuatu yang datang itu. Akan tetapi yang menjadi patokan adalah sifat yang menancap di hati, yang dapat membuatnya lapang atau ciut. Itulah timbangannya… Wallohul musta’an.
(8) Diantaranya lagi -bahkan ini salah satu yang utama- adalah:Membersihkan hati dari kotoran, seperti sifat-sifat tercela yang menyebabkan hati menjadi ciut, tersiksa, dan menghalangi kesehatannya.
Karena, jika sebab-sebab lapangnya hati itu datang kepada seseorang, sedang ia belum mengeluarkan sifat-sifat tercela itu dari hatinya, maka ia tidak akan mendapatkan kelapangan hati yang berarti. Hasil akhirnya adalah adanya dua materi yang memenuhi hatinya, dan hatinya akan dikuasai oleh apa yang lebih banyak menempati hatinya.
(9) Dan diantaranya lagi adalah: Meninggalkan setiap yang berlebihan, baik dalam ucapan, penglihatan, pendengaran, pergaulan, makanan, ataupun tidur. Karena sikap berlebihan dalam ini semua, dapat menyebabkan hati menjadi sakit, gundah, resah, terkepung, terpenjara, ciut, dan tersiksa karenanya. Bahkan kebanyakan siksaam dunia dan akhirat, bersumber darinya.
Maka, laa ilaaha illallooh… betapa ciutnya dada orang yang menyimpan semua penyakit ini, betapa susah hidupnya, betapa buruk keadaannya, dan betapa terkepung hatinya…
Dan Laa ilaaha illallooh… betapa nikmatnya kehidupan seseorang yang dadanya menyimpan semua sifat yang terpuji itu, serta cita-citanya berputar dan mengitari semua sifat itu. Tentulah orang ini memiliki bagian yang agung dari firman Alloh ta’ala:
إنَّ الأَبْرَارَ لَفِى نَعِيم [الانفطار: 13]
Sesungguhnya orang yang baik amalannya, berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan.
Adapun yang itu, mereka memiliki bagian yang besar dari firman-Nya:
وإنَّ الفُجَّارَ لَفِى جَحِيمٍ [الانفطار: 14]
Sesungguhnya orang-orang yang buruk amalannya, berada dalam neraka (yang penuh kesengsaraan)
Dan diantara keduanya ada banyak tingkatan yang berbeda-beda, tiada yang dapat menghitungnya, kecuali Alloh tabaaroka wa ta’aala.
Maksud kami (membawakan pembahasan ini adalah agar kita tahu): Bahwa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- adalah makhluk yang paling sempurna dalam semua sifat terpuji yang bisa menjadikan kelapangan dada, keluasan hati,qurrotu ain, dan kehidupan jiwa. Oleh karena itulah, beliau menjadi makhluk yang paling sempurna dalam kelapangan dada, kehidupan hati, dan qurrotu ain. Belum lagi keistimewaan beliau dalam kelapangan hidup yang bisa dilihat mata.
Dan makhluk yang paling sempurna dalam menirunya, dialah makhluk yang paling sempurna dalam kelapangan, kelezatan, dan qurrotu ainnya. Seperti apa seorang hamba dalam meniru beliau, maka seperti itu pula ia akan mendapatkan kelapangan dada, qurrotu ain, dan kelezatan jiwanya.
Maka, beliau -shollallohu alaihi wasallam- adalah orang yang menempati posisi puncak kesempurnaan dari kelapangan dada, kemuliaan nama, dan minimnya dosa. Dan bagi pengikutnya dalam semua itu, ada bagian yang sesuai dengan kadar pengikutannya kepada beliau… wallohul musta’an.
Dan demikian pula (dalam hal lainnya), bagi pengikut beliau, ada bagian dari perlindungan, penjagaan, pembelaan, pemuliaan, pertolongan Alloh untuk mereka, tergantung porsi peneladanan mereka terhadap beliau. Ada yang dapat bagian sedikit, ada juga yang dapat bagian banyak. Maka barangsiapa yang mendapati kebaikan pada dirinya, maka hendaklah ia memuji Alloh. Adapun yang mendapati selain itu, maka janganlah ia mencela selain dirinya.
(Bagi yang ingin membaca naskah aslinya dalam bahasa arab, silahkan merujuknya ke kitab Zaadul Ma’aad, karya Ibnul Qoyyim, jilid 2, hal. 23)

DAFTAR ISTILAH PAMSIMAS



ABK : Anggaran Berbasis Kinerja
AD/ART : Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga
AMDAL : Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
APBD : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
APBN : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
BAB : Buang Air Besar
BABS : Buang Air Besar Sembarangan
BAPPD : Berita Acara Permintaan Pencairan Dana
Bappeda : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Bappekab/kot : Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten/Kota
Bappeprov : Badan Perencanaan Pembangunan Provinsi
Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
BI : Bank Indonesia
BKM : Badan Keswadayaan Masyarakat
BLM : Bantuan Langsung Masyarakat
BOP : Biaya Operasional Program (Biaya Umum / Administrasi)
BPD : Badan Permusyawaratan Desa
BPKP : Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan
CD : Capacity Development
CDD : Community Driven Development
CLTS : Community Led Total Sanitation
CMAC : Central Management Advisory Consultant
CPIU : Central Project Implementaion Unit
CPMU : Central Project Mangement Unit
CQS : Selection based on Consultant’s Qualifications
DCC/TKK : District Coordination Committee / Tim Koordinasi Kabupaten/Kota
DED/RKK : Detailed Engineering Design / Rancangan Rinci Kegiatan
DFC : District Facilitator Coordinator
DJCK : Direktorat Jenderal Cipta Karya
DIPA : Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran
DitPAM : Direktorat Pengembangan Air Minum

DJPb Depkeu : Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Departemen Keuangan
DPPHLN Depkeu : Direktorat Pengelolaan Pinjaman & Hibah Luar Negeri, Departemen Keuangan
DPR : Dewan Perwakilan Rakyat
DPRD : Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
DRA : Demand Responsive Approach
Fasilitator : Tenaga Pendamping Program Pamsimas di masyarakat
FA/LA/GA : Financing Agreement / Loan Agreement / Grant Agreement
FGD/DKT : Focused Group Discussion / Diskusi Kelompok Terarah
FMR : Financial Management Report
GoI : Government of Indonesia
GPN : General Procurement Notice
HHS : Health and Hygiene Specialist
HU : Hidran Umum
ICB : International Competitive Bidding
IDA : International Development Association
IDR : Indonesia Domestic Rate
IFR : Interim Financial Report
IMAS : Identifikasi Masalah dan Analisis Situasi
IVP : Indigenous and Vulnerable People
Initial Deposit : Dana Awal
KDP/PPK : Kecamatan Development Programme / Program Pengembangan Kecamatan (PPK)
KKN : Korupsi Kolusi Nepotisme
KPPN : Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara
LCB : Local Competitive Bidding
LCS : Least-Cost Selection
LKM : Lembaga Keswadayaan Masyarakat, merupakan nama generik yang dahulu dinamakan BKM
LKMD : Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa
LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat
MAK : Mata Anggaran Keluaran
MDGs : Millennium Development Goals
MPA : Methodology for Participatory Assessment
NCB : National Competitivie Bidding
NGO : Non Goverment Organization
NPPHLN : Nota/Naskah Perjanjian Pinjaman / Hibah Luar Negeri
NOL : No Objection Letter
OD : Open Defecation
ODF : Open Defecation Free
P2KP/UPP : Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan / Urban Poverty Project
PAD : Project Appraisal Document
PAH : Penampung Air Hujan
PA/KPA : Pengguna Anggaran / Kuasa Pengguna Anggaran
Pamsimas : Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat
PCC/TKP : Provincial Coordination Committee / Tim Koordinasi Provinsi
PCSC : Project Coordination and Steering Committee
PDAM : Perusahaan Daerah Air Minum
PDMDKE : Pemberdayaan Daerah dalam Mengatasi Dampak Krisis Ekonomi
PHAST : Participatory Higiene and Sanitation Transformation
PHLN : Pinjaman / Hibah Luar Negeri
PKN : Pengelolaan Kas Negara
PMAC : Provincial Management Advisory Consultant
PMD : Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
PMC : Process Monitoring Consultant
PMM : Project Management Manual
PODES : Potensi Desa
POM : Project Operational Manual
PPh : Pajak Penghasilan
PPK : Pejabat Pembuat Komitmen
PPN : Pajak Pertambahan Nilai
PRA : Participatory Rural Appraisal
PT : Public Tap
QBS : Quality Based Selection
QCBS : Quality and Cost Based Selection
RAB : Rencana Anggaran Biaya
RFP : Request for Proposal
RKA-KL : Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian / Lembaga
RKA-SKPD : Rencana Kerja dan Anggaran – Satuan Kerja Perangkat Daerah
RKL : Rencana Pengelolaan Lingkungan
RKM/CAP : Rencana Kerja Masyarakat / Community Action Plan
RPIJM : Rencana Program Investasi Jangka Menengah
RPJM : Rencana Pembangunan Jangka Menengah
RPL : Rencana Pemantauan Lingkungan
RT/RW : Rukun Tetangga/Rukun Warga
SA / Reksus : Special Account (Rekening Khusus)
Satker : Satuan kerja
Satlak : Satuan Pelaksana
SCC : Special Condition of Contract
SE-DJP Depkeu : Surat Edaran Direktor Jenderal Perbendaharaan, Departemen Keuangan
SIM : Sistem Informasi Manajemen
SKPD : Satuan Kerja Perangkat Daerah
SKS : Satuan Kerja Sementara
SNVT : Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu
SOP : Standard Operational and Procedures
SPK : Surat Perjntah Kerja
SPKMK : Surat Pernyataan Kesanggupan Menyelesaikan Kegiatan
SPM : Surat Perintah Membayar
SPP : Surat Permintaan Pembayaran
SPPB : Surat Perjanjian Pemberian Bantuan
SP2D : Surat Perintah Pencairan Dana
SP3K : Surat Pernyataan Penyelesaian Pelaksanaan Kegiatan
SSP : Surat Setoran Pajak
SR : Sambungan Rumah
SWOT : Strength, Weakness, Opportunity and Threat
TA : Technical Assistance
TIM INTERDEPT : Tim Pengarah dan Kelompok Kerja Antar Departemen Terkait di Tingkat Nasional
TKK/DCC : Tim koordinasi Kabupaten/Kota / District Coordination Committee
TKKc : Tim Koordinasi Kecamatan
TNA : Training Need Assessment
TOR/KAK : Term of Reference / Kerangka Acuan Kerja
TOT : Training of Trainer
TPK : Tim Pelaksana Kegiatan
TSSM/SToPS : Total Sanitation & Sanitation Marketing / Sanitasi Total & Pemasaran Sanitasi
TTK : Tim Teknis Kabupaten/Kota
TTKc : Tim Teknis Kecamatan
Tupoksi : Tugas Pokok dan Fungsi
TW : Transect Walk
UKL : Upaya Pengelolaan Lingkungan
UPL : Upaya Pemantauan Lingkungan
UPM : Unit Pengaduan Masyarakat
VIM : Village Implementation Manual
WB : World Bank
WSS : Water Supply and Sanitation
WSSLIC : Water Supply and Sanitation for Low Income Community
WSLIC-2 : Second Water supply and Sanitation for Low Income Community
WSLIC-3/ : Third Water supply and Sanitation for Low Income Community /
Pamsimas Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat




BUKAN CINTA BIASA (2)

Des 22nd, 2009 | By Abu Haidar | Category: Wanita dan keluarga
Cinta Mubah
Jenis cinta yang paling mulia adalah jenis cinta yang pertama, cinta karena Allah ‘Azza wa Jalla dan wajib kita miliki, sedangkan tiga jenis cinta yang lainnya adalah mubah. Kecuali apabila ketiga jenis cinta yang mubah ini dibarengi dengan hal-hal yang sifatnya ibadah, maka cinta jenis ini menjadi ibadah.
Seseorang yang mencintai orang tuanya dengan kecintaan pemuliaan atau penghormatan, apabila dibarengi dengan niat ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka kecintaannya bernilai ibadah. As-Sa’dy rahimahullahmenyatakan bahwa apabila cinta yang mubah ini bisa membantu dan mendorong kecintaan kepada Allah‘Azza wa Jalla maka berubah menjadi ibadah.
Namun apabila cinta yang mubah ini bisa menghalangi ketaatan dan kecintaan kepada Allah ‘Azza wa Jallabahkan bisa menyeret kepada apa-apa yang tidak dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla, maka cinta yang seperti ini berubah menjadi cinta yang terlarang. Tapi kalau tidak berpengaruh apa-apa dalam arti tidak menambah kecintaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak mengurangi ketaatan kepada-Nya maka tetaplah dia dalam kemubahannya. (al-Qaul as-Sadid hal 90-97).


Cinta Naluri
Demikian pula cinta thabi’i (naluri) seperti mencintai makanan, minuman, dan seterusnya, apabila diniatkan untuk mendukung ibadah maka cinta inipun menjadi ibadah. Oleh karena itu Nabi diberikan rasa cinta kepada wanita dan minyak wangi dengan cinta naluri (HR. Ahmad dan an-Nasa’i dengan sanad yang hasan), tetapi diperlakukan dengan perlakuan yang sesuai dengan syari’at sehingga memberi maslahat yang besar bagi pribadi, ibadah, dan dakwah perjuangannya, maka kecintaan naluri ini bernilai ibadah.
Nabi pernah menyatakan bahwa orang yang menyantuni janda dan orang miskin seperti mujahid di jalan Allah‘Azza wa Jalla. Bahkan beliaupun mengatakan orang yang seperti itu bagaikan orang yang shalat dan tak pernah berhenti atau seperti orang yang shaum dan tak pernah berbuka. (Muttafaq ‘alaih).
Bahkan orang yang menyantuni anak yatim akan memperoleh pahala dan bernilai ibadah karena mengamalkan perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Rasul bersabda, “Aku dan orang-orang yang menjamin anak yatim akan berada di dalam surga seperti ini.” Lalu beliau berisyarat dengan telunjuk dan jari tengahnya. (HR. Bukhari).
Walhasil, cinta yang mubah bisa berubah menjadi cinta ibadah apabila diniatkan untuk ibadah dan dilaksanakan dengan cara yang sesuai dengan syari’at. Hal ini berbeda dengan orang yang memiliki cinta yang mubah tetapi tidak diniatkan untuk ibadah. Seperti orang yang menyantuni anak yatim hanya karena riya, atau dorongan jiwa social atau hanya melaksanakan tugas sebagai pegawai panti social atau hanya dorongan kemanusiaan semata. Semua itu mubah dan tidak bernilai ibadah.
Nabi bersabda, “Amal itu bergantung kepada niat, dan setiap orang hanya akan memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari)



BUKAN CINTA BIASA (1)

Agu 10th, 2009 | By Abu Haidar | Category: Wanita dan keluarga
Ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla harus dibangun di atas landasan cinta, bahkan cinta adalah hakikat dari ibadah itu sendiri, sebab bila kita ibadah tanpa cinta maka ibadah kita ibarat kulit yang tidak memiliki ruh. Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu’ Fatawanya juz 1/95 menyatakan bahwa penggerak hati dalam ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla ada tiga, yaitu: rasa cinta, rasa takut, dan harapan.

Dan penggerak yang paling kuat di antara ketiga hal itu adalah cinta. Rasa takut akan membuat manusia berusaha agar tidak menyimpang dari jalan-Nya, rasa cinta akan menyebabkan dia berjalan menuju yang dicintainya, sedangkan harapan yang akan menuntunnya. Ibadah tidak akan sah tanpa ketiganya.
Bagian Cinta
Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah cinta ada dua bagian.
Pertama, cinta ibadah
yaitu merasa rendah diri/hina dan mengagungkan. Hati manusia harus menghadirkan sikap mengagungkan terhadap yang dicintai serta memuliakan. Sehingga ia melaksanakan perintah yang dicintai dan menjauhi larangannya. Cinta jenis ini khusus ditujukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Barangsiapa yang mencintai makhluk seperti kecintaan kepada Allah maka dia telah berbuat musyrik dengan kemusyrikan yang besar. Para ulama mengungkapkan cinta jenis ini dengan ungkapan cinta khusus atau bukan cinta biasa.
Kedua, cinta yang bukan ibadah. Terdiri dari:
 Cinta karena Allah ‘Azza wa Jalla. Yaitu mencintai apa-apa yang dicintai Allah ‘Azza wa Jalla baik berupa manusia, seperti para nabi, para rasul, para shiddiqin, para syuhada, dan para shalihin, serta mencintai sesama muslim. Atau berupa amal perbuatan, seperti shalat, zakat, dan amal kebaikan lainnya. Atau berupa waktu, seperti bulan Ramadhan dan sepuluh hari terakhir di bulan itu, serta yang lainnya. Atau berupa tempat, seperti masjid, ka’bah, gunung Uhud, dan yang semisalnya. Mencintai semua itu berarti mencintai karena Allah ‘Azza wa Jalla. Dan cinta jenis ini termasuk cabang dari cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla, bahkan termasuk penyempurnaan tauhid serta tali iman yang paling kuat. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Tali Allah yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR. Bukhari).
 Cinta kasih sayang, seperti mencintai anak kecil, orang miskin, orang sakit, anak yatim, dan sejenisnya.
 Cinta memuliakan dan menghormati yang tidak berupa ibadah, seperti seseorang yang mencintai orang tuanya, guru atau orang dewasa ahli kebaikan.
 Cinta thabi’i (naluri), seperti mencintai makanan, minuman, pakaian, kendaraan, dan tempat tinggal yang nyaman. Mencakup juga cinta kepada istri, anak, harta, dan jabatan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah ditanya, “Siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah!”Ditanya lagi, “Kalau dari kalangan laki-laki?” Beliau menjawab, “Bapaknya!” Maksudnya adalah Abu Bakar. (HR. Bukhari dari Amr bin Ash).





FOTO-FOTO KUNJUNGAN TIM UJI PETIK PROPINSI
KE DESA KARANG ASEM





ISU-ISU POPULER PAMSIMAS 2009
Koordinasi dan Monev
1. Scheduling implementasi program oleh LKM, CF, KF, DPMU. ß DMAC
2. MIS & QS.
3. Monev dan pelaporan berjenjang : LKM & CF à KF à DPMU à TKK, dst.
4. Rapat rutin TKP dengan PPMU, TKK dengan DPMU.
5. Join action plan antar dinas terkait.
6. Efektifitas kinerja DPMU, atau Satker Kab yang lebih berperan? ß DMAC
7. Tim Teknis Kab (embrio pokja AMPL) sebagai verifikator RKM. ß DMAC
Pendanaan
8. Progres, tahap dan jumlah pencairan dana.
(DDUPB-APBD , APBN 20%,40%,405)
9. Kontribusi in cash Masyarakat & Pemda (APBD / APBDP)
CLTS
10. Sertifikasi CLTS (terbentuknya Komite desa, perencanaan & pemantauan bersama Sanitarian sampai ODF)
Masyarakat
11. Data dan peta tidak dismpan dengan baik oleh LKM (kualitas Peta Sosial)
12. Pemahaman tahap kegiatan oleh LKM dan masyarakat (kualitas IMAS, PJM ProAKSi)
13. Papan informasi desa (transparansi , pemanfaatan Unit Pengaduan Masyarakat di LKM – Poster-poster PAMSIMAS)
14. Kelembagaan LKM ( dan bila sudah ada BKM ) à Kualitas sdm.
Pedoman & Capacity Building
15. Distribusi / Sosialisasi Pedoman Pamsimas kepada seluruh stake holder (Pemahaman Program Pamsimas, roh dan rambu-rambu dalam Juklak & Juknis)
16. Strategy capacity building, terutama pengadaan, bookkeeping (trik : resume & teleconference).
17. Efektifitas coaching capacity building oleh trainer (PMAC / DMAC) kepada CF & KF
18. KF masih berfokus hanya pada kontroling CF, belum dalam rangka koordinasi dan penguatan ke Pemda.
19. Pemanfaatan BOP KF, CF, (tertib administrasi , tepat waktu)
Teknis
20. Pengadaan pipa, harus SNI ? (Referensi harga pabrikan tahun 2008 + 10%)
21. Pengaturan cashflow untuk pengadaan pipa di desa dengan opsi perpipaan.
Isu-isu persiapan 2010 :
1. Penetapan desa sasaran (5 kriteria longlist, shortlist : clustering, ketersediaan sumber air, komitmen kontribusi masyarakat)
2. Capacity Building untu aparat Kab / Kota dan anggota DPRD terkait)
3. Alokasi DDUPB APBD untuk 12 desa ( + desa Replikasi )
4. Alokasi dana operasional TKP, PPMU, TKK, DPMU , TKKc, untuk pembinaan dan monev
5. Strategi pelatihan CF 2010, (i) internalisasi nilai dan pemahaman siklus à (ii) Teknis (MPA/PHAST, LKM, PJM ProAKSi, Opsi, RKM, BPS).
6. OJT lebih baik ke desa definitif
7. Replikasi (jumlah desa, mulai kapan, dananya, gaji CF APBN beda dengan CF APBD)
 

Related Resources

Site Info

Followers